Bukit Turgo – Plawangan adalah wilayah yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), yang mana informasi mengenai keanekaragaman hayati di wilayah ini masih sangat minim. Termasuk pula informasi mengenai kekayaan herpetofauna (reptilian dan amfibi). Keberadaan satwa herpetofauna sangat bergantung pada iklim mikro yang terbentuk dari asosiasi antara vegetasi hutan yang ada. Oleh karena itu, keberadaan satwa herpetofauna bias menjadi indicator kelestarian hutan.

Intensitas aktivitas manusia di bukit Turgo – Plawangan cukup tinggi mengingat beberapa sumber air yang ada di manfaatkan / di eksploitasi untuk kebutuhan manusia. Hal ini menyebabkan wilayah tersebut rawan mengalami kerusakan / gangguan, yang akan berpengaruh terhadap keberadaan satwa herpetofauna. Berdasarkan hal ini, diperlukan informasi mengenai satwa herpetofauna di wilayah tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk pengelolaan kawasan.
Penelitian dilakukan pada tanggal 7-10 Juli 2008 di kawasan Turgo – Plawangan terutama di sekitar sumber air yang ada di wilayah tersebut yaitu sumber air Siraman Wedhok, Siraman Lanang, Candi, Kandangan, Klethak dan Kemaduan.
Pengambilan data jenis herpetofauna dilakukan menggunakan metode aktif dan pasif. Metode aktif yaitu pengambilan data dilakukan dengan mencari secara langsung satwa herpetofauna di kawasan tersebut, terutama di sekitar keenam sumber air yang telah disebutkan di atas. Metode pasif yaitu mengumpulkan satwa herpetofauna dilakukan menggunakan perangkap/ ‘trap’. Perangkap yang digunakan adalah Glue Trap dan Bait Trap yang dipasang di sekitar mata air selama 3 hari dan di control setiap pagi dan sore. Jumlah dan lokasi pemasangan trap ditentukan berdasarkan kondisi medan.
Tingkat keanekaragaman herpetofauna dihitung menggunakan indeks keanekaragaman Shannon. Satwa herpetofauna yang ditemukan di wilayah penelitian sebanyak 5 ekor dengan indeks keanekaragaman Shannon sebesar 1.153 dan dua jenis lain yang ditemukan dalam fase berudu.
Pada setiap lokasi pencarian dilakukan pada malam hari kecuali pada sumber air Klethak yang karena kondisi medannya hanya memungkinkan untuk dijelajahi siang hari. Secara keseluruhan, jenis-jenis herpertofauna yang ditemukan menggunakan metode aktif di wilayah penelitian termasuk nilai indeks keanekaragamannya.
Pada beberapa lokasi sumber air juga ditemukan beberapa jenis berudu dari jenis Rhacophorus javanus, Limnonectes microdiscus, dan Megophrys montana. Di sumber air candi diketahui keberadaan M. montana dewasa melalui suaranya, meskipun individunya tidak terlihat. Selain itu diluar lokasi penelitian yaitu di wilayah perkampungan Turgo, ditemukan jenis herpetofauna lain yaitu Gonocephalon kuhlii (sub ordo Sauria) dan Calamaria linnei (sub ordo Serpenthes). Penggunaan trap pada penelitian ini tidak berhasil mendapatkan satupun satwa herpetofauna. Penggunaan trap pada lokasi penelitian dinilai cukup membahayakan lingkungan karena satwa jenis lain yang tidak inginkan bisa ikut terjebak, seperti glue trap yang dipasang di wilayah Candi telah menjebak seekor tikus. Sejumlah mata kail pada bait trap juga hilang, yang mungkin disebabkan oleh satwa yang terlalu kuat menariknya sehingga kailnya akan tertinggal di tubuh satwa dan menyebabkan luka.
Dari jenis-jenis yang ditemukan, M. montana dan R. javanus merupakan jenis endemic Jawa, bahkan R. javanus berdasarkan criteria IUCN masuk dalam kategori vulnerable. R. javanus, L. kuhlii, dan Philautus aurifasciatus pada penelitian ini ditemukan di sumber air Siraman Lanang, Candi, dan Siraman Wedhok yang kondisi vegetasi hutannya masih terlihat bagus. Jenis-jenis ini memang hanya hidup pada daerah yang kondisi hutan dan perairannya bagus. Keberadaan ke 3 jenis herpetofauna ini pada 3 lokasi sumber air menandakan bahwa hutan di sekitar lokasi sumber air ini memang masih bagus. Jenis Rana chalconota mampu hidup pada daerah yang lebih terganggu dan pada penelitian ini jenis tsb memang ditemukan di sumber air Kemaduan yang kondisi lingkungan di sekitarnya sudah banyak dimodifikasi manusia untuk keperluan pemanfatan air. Dari jenis-jenis yang didapat di lokasi penelitian, secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi hutan di Bukit Turgo-Plawangan masih cukup bagus karena mampu menopang kehidupan jenis-jenis herpetofauna yang membutuhkan kondisi lingkungan yang bagus.
Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)
Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009
Kekayaan Jenis Satwa Indonesia
Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku
“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas
Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan
Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut
Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman
Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi
ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia
Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta
Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi
Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)
TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)
Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi
Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)
Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi
Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi
Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)