Sampah merupakan salah satu permasalahan yang cukup pelik akhir-akhir ini. Bertambahnya populasi manusia menyebabkan semakin banyaknya sampah yang dihasilkan, baik itu sampah organik, maupun non-organik. Di sisi lain, terbatasnya lahan juga menyebabkan permasalahan dalam pengelolaan sampah, baik itu dalam penyediaan lahan untuk TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Salah satu cara untuk mengurangi dampak dari bertambahnya sampah adalah melakukan 3R, yaitu Reduce (mengurangi penggunaan bahan-bahan yang berpotensi menjadi sampah), Reuse (menggunakan kembali barang bekas yang sekiranya masih dapat digunakan), dan Recycle (mendaur ulang sampah sehingga menjadi barang yang bernilai).

Begitu pula dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung Sukunan, Yogyakarta. Mereka menerapkan prinsip 3R, atau menurut Bapak Iswanto (koordinator gerakan Sukunan Bersemi) 4R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace. Replace yang dimaksud di sini adalah mengganti penggunaan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan ke bahan-bahan yang ramah lingkungan. Salah satu contoh yang cukup membuat saya terkejut adalah penggunaan pembalut wanita (feminine napkins) yang dapat dipakai berkali-kali.

Pembalut wanita yang banyak beredar di pasaran saat ini terbuat dari bahan yang cukup sulit didegradasi. Sebut saja plastik. Bahan plastik pada pembalut wanita sekali pakai berfungsi agar cairan yang meresap ke dalamnya tidak ‘bocor’. Saya akan mengambil contoh diri saya sendiri. Setiap bulannya saya menggunakan pembalut wanita sekali pakai kira-kira 10-15 buah. Pada wanita lain, banyaknya pembalut yang dipakai tergantung dari lamanya menstruasi, banyaknya darah menstruasi yang dikeluarkan, dan sebab-sebab lainnya. Dalam satu tahun, untuk diri saya sendiri saya akan menghasilkan sampah pembalut wanita kurang lebih 120-180 buah pembalut. Di lingkup keluarga saya saja ada 4 orang wanita usia subur, jadi dalam setahun sampah pembalut dari rumah saya ada sekitar 480-720 buah pembalut. Bayangkan saja berapa banyak sampah pembalut yang dihasilkan oleh satu RT, RW, Desa, Kecamatan, dan seterusya? Sedangkan sampah pembalut tidak laku dijual kembali, dan bahan-bahannya sulit terdegradasi oleh lingkungan secara alami.

Sukuno – Pembalut Wanita Ramah Lingkungan

Di Melbourne, Australia, ada satu daerah yang merupakan daerah ramah lingkungan. Di sana mereka mengembangkan pembalut yang dapat dipakai kembali. Ide ini diambil dan diadaptasi oleh Pak Iswanto dengan memodifikasi model pembalut yang ada di Melbourne, dan hasilnya adalah Sukuno ini.

Pada dasarnya Sukuno merupakan pembalut yang bentuknya mirip dengan pembalut wanita biasa, tetapi bahan yang digunakan adalah kain. Bagian luarnya terbuat dari kain parasut untuk mencegah agar tidak ‘bocor’, dan bagian dalamnya terbuat dari kain popok yang lembut sehingga tidak menyebabkan iritasi. Di antara kedua lapisan kain ini dimasukkan kain popok yang dilipat berkali-kali sehingga membentuk bantalan kain. Bantalan kain ini dapat dikeluarkan, dicuci dan dimasukkan lagi untuk dipakai kembali. Lapisan luarnya juga dapat dicuci, dikeringkan, dan dipakai berulang kali.

Bagian tersulit dari ‘penggantian/replace’ pambalut wanita sekali pakai menjadi Sukuno ini adalah merubah perilaku masyarakat untuk mau menggunakan pembalut ramah lingkungan ini, karena mereka akan lebih ‘direpoti’ karena harus mencuci dan mengeringkan, dibandingkan dengan jika mereka menggunakan pembalut wanita sekali pakai. Diakui sendiri oleh Pak Iswanto bahwa beliau masih dalam tahap sosialisasi kepada warga Kampung Sukunan. Untuk pengolahan sampah mandiri saja beliau membutuhkan waktu 5 tahun sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat untuk dapat mencapai kondisi seperti sekarang ini (sampah benar-benar dikelola secara mandiri oleh warga dan mengurangi sampah yang masuk ke TPA).

Jika dilihat ke belakang, sebelum maraknya pembalut sekali pakai, dahulu para wanita juga menggunakan handuk yang dilipat menjadi bantalan sebagai pembalut saat masa menstruasi. Kalau dipikir kembali, menggunakan Sukuno tidak ada bedanya dengan menggunakan metode yang digunakan wanita jaman dahulu. Kalau mereka saja bisa, kenapa kita tidak bisa?

 

Note:

Paguyuban Sukunan Bersemi, RW 19, Sukunan, Banyuradenm Yogyakarta

Telp. 0274 621739

CP: Bapak Iswanto (081578755703

 

 

 

Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)

Kampanye Peduli Elang Jawa

Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah

Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009

Habitat Elang Ular Bido (Spilornis cheela-bido Horsfield, 1821) Di Zona Pegunungan Seribu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta

Kekayaan Jenis Satwa Indonesia

Jogja Green Festival

Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku

“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas

Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan

Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut

Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman

Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi

ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia

Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta

Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi

Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)

TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)

Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi

Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)

Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi

Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi

Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)

Ngargomulyo, Desa Lestari di Lereng Barat Merapi, Magelang

Setitik Usaha Mempertahankan Sumber Kehidupan