Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi

Yayasan Kanopi indonesia

Kawasan Gunung Merapi ditetapkan sebagai Taman Nasional melalui SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 dengan luasan 6.410 ha (1.283,99 ha di DIY dan 5.126,01 ha di Jateng). Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan alasan kekhasan Gunung Merapi yang sangat aktif dan merupakan tipe tersendiri serta adanya ekosistem yang unik, menarik dan dinamis dari kombinasi biosystem, geosystem dan sociosystem. Tujuan pengelolaan Taman Nasional ini adalah Perlindungan  sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan  kabupaten/kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang.

Kawasan Gunung Merapi banyak menyimpan potensi, baik dari potensi alam maupun sumber daya manusianya. Secara ekologis, kawasan Gunung Merapi merupakan daerah tangkapan air, selain itu juga menjaga kestabilan ekosistem pegunungan. Gunung merapi merupakan salah satu ”TROPICAL MONTANE CLOUD FOREST”, suatu bioma yang merupakan aset bumi yang saat ini memiliki kerentanan sangat tinggi. Bioma ini secara lokal umumnya merupakan ”hot spot” biodiversity.

Di Merapi sendiri dapat dijumpai :

  • Tidak kurang dari 200 jenis tumbuhan, Taman Nasional Gunung Merapi bahkan memprediksi jumlah jenis tumbuhan mencapai 1000
  • Dari sejumlah jenis tumbuhan tersebut terdapat jenis-jenis endemik atau eksotik, di antaranya Paphiopedillum javanicum (CITES Appendices II), Balanophora elongata (parasit-semacam Rafflesia),  Nepenthes spp, tidak kurang dari 65 jenis anggrek alam.
  • Satwa liar, termasuk yang dilindungi undang-undang. Di antaranya masih terdapat macan kumbang (Panthera pardus), trenggiling (Manis javanica), 5 jenis burung pemangsa (raptor) termasuk elang jawa (Spizaetus bartelsi) yang hanya tinggal sekitar 7 ekor di wilayah ini.

Kondisi kehutanan Merapi pada tahun 1995 mencapai 75-80%, dan pada tahun 2000 menjadi tinggal 40%. Penyusutan ini selain karena aktivitas vulkanik juga karena alih fungsi lahan (terutama untuk perumputan dan penambangan pasir).

Penetapan kawasan ini menjadi Taman Nasional menimbulkan banyak konflik, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Pihak yang pro berpendapat dengan ditetapkan sebagai Taman Nasional maka kawasan akan lebih terjaga karena memiliki pengelolaan yang lebih terjaga, sedang pihak yang kontra mempermasalahkan cara penetapannya yang top-down dan merisaukan masalah zonasi. Bagi masyarakat yang kehidupan sehari-harinya bergantung terhadap kawasan tidak mengerti pentingnya zonasi, yang mereka perlukan hanya mencukupi kebutuhan rumah tangga dan ternaknya. Beberapa daerah yang sering menjadi tempat pengambilan rumput dimungkinkan menjadi zona inti dan ona rimba sehingga akses masyarakat untuk pemanfaatan sangat terbatas bahkan tidak ada. Sebelum ditetapkan menjadi Taman Nasional dengan zonasinya, masyarakat  bebas memanfaatkan daerah tersebut.

Secara sosial budaya sebagian masyarakat di seputaran gunung Merapi masih memiliki akar budaya cukup kuat, teruama di lereng selatan gunung Merapi. Dengan kondisi ini pemahaman masyarakat tentang fungsi lingkungan hidup masih lebih baik dari pada daerah lainnya.

Untuk melakukan upaya konservasi yang berkelanjutan diperlukan dukungan dari semua pihak, termasuk warga terdekat dari lokasi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penggalangan partisipasi yang bermakna konservasi (manfaat jangka panjang) sekaligus memberikan manfaat jangka pendek bagi masyarakat.

Pendekatan

Dengan kondisi kehutanan yang rentan ini diperlukan usaha untuk pemulihan hutan/ fungsi hutan. Pemulihan diperlukan di bagian hutan alam (wilayah TNGM) maupun daerah di sekitarnya (bantaran sungai dan hutan rakyat). Usaha pemulihan yang dapat dimulai dari salah satu daerah. Langkah ini diambil juga untuk memancing kepedulian dari daerah lain di sekitarnya. Kanopi Indonesia dan Rotaract Malioboro memilih lokasi di daerah sekitar dusun Turgo dan Kemiri-Ngepring.

Daerah Turgo merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan hutan alam, termasuk daerah yang tersapu awan panas 1994. warga dusun ini sebagian besar masih cukup paham akan fungsi ekosistem secara turun temurun, sehingga memudahkan untuk melakukan aksi bersama.

Sedangkan daerah Kemiri-Ngepring merupakan daerah yang memiliki hutan rakyat cukup luas, namun beberapa tahun lalu mulai banyak hutan yang setelah dipanen kayunya kemudian ditambang pasir dan batu oleh sebagian kecil warga. Sebagian lahan bekas tambang ini telah ditinggalkan dan saat ini ditanami rumput dan kayu.

 

Langkah yang diambil adalah:

Gerakan penghijauan
Rehabilitasi lahan dalam kawasan hutan alam
Rehabilitasi diperlukan untuk daerah bekas terkena awan panas dan bekas jalur lava. Jenis-jenis tumbuhan disesuaikan dengan jenis tumbuhan asli dengan penempatan sesuai dengan kecocokan tipe habitat (terlampir).

Rehabilitasi lahan hutan rakyat
Rehabilitasi ini diperlukan terutama di bagian yang sempat ditambang pasir dan batunya. Kondisi lahan yang rusak (berlubang-lubang karena ditambang) memerlukan tindakan rehabilitasi agar kondisi tanah dan vegetasinya dapat kembali seperti semula. Untuk rehabilitasi lahan ini sebaiknya ditanam tanaman produktif dan tanaman penguat struktur tanah, misalnya bambu dan tanaman berakar tunggang.

Penanaman tanaman bermanfaat / produktif
Penanaman ini diperlukan untuk memacu partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan alam yang tidak memberikan manfaat langsung untuk sementara waktu ini. Akan lebih baik bila tanaman yang ditanam merupakan tanaman tahunan yang hasilnya dapat dipetik secara teratur.

 

Penguatan kapasitas
Pelatihan teknis
Diharapkan masyarakat mampu memperbanyak dan memelihara jenis-jenis tumbuhan lokal.

Pembuatan/perbaikan kebun koleksi desa
Kebun koleksi diperlukan untuk menampung bila ada bibit datang, dan untuk koleksi jenis sebagai media pembelajaran bersama

Pendampingan berkelanjutan
Pendampingan diperlukan baik secara teknis, pengembangan jaringan kerja, maupun pengembangan komoditas / jenis

 

 

 

Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)

Kampanye Peduli Elang Jawa

Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah

Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009

Habitat Elang Ular Bido (Spilornis cheela-bido Horsfield, 1821) Di Zona Pegunungan Seribu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta

Kekayaan Jenis Satwa Indonesia

Jogja Green Festival

Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku

“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas

Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan

Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut

Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman

Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi

ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia

Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta

Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi

Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)

TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)

Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi

Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)

Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi

Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi

Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)

Ngargomulyo, Desa Lestari di Lereng Barat Merapi, Magelang

Setitik Usaha Mempertahankan Sumber Kehidupan