Air merupakan sumber kehidupan. Kita membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hati seperti minum, mandi, cuci, dan lain-lain. Air juga dibutuhkan oleh tumbuhan untuk tumbuh. Banyak makhluk hidup yang bergantung akan keberadaan air. Bila air tidak ada maka banyak kehidupan yang akan sirna. Oleh karena itu banyak usaha yang dilakukan untuk mempertahankan sumber air.

Taman Nasional Gunung Merapi memiliki fungsi sebagai “tower air”, yaitu sebagai penampung air. Hutan di kawasan Taman Nasional sebagai area penangkap air dan penyimpan cadangan air. Dengan adanya pepohonan yang lebat akan mengurasi erosi yang diakibatkan oleh aliran air. Air tidak akan mengalir langsung ke sungai-sungai tetapi ditahan oleh pepohonan tersebut. Bila pepohonan ini hilang maka yang terjadi adalah tidak ada penyimpan cadangan air. Dengan demikian secara perlahan kita akan kekurangan air atau hilangnya sumber mata air.Saat ini kondisi hutan Turgo di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memerlukan perhatian lebih.
Sejak erupsi Gunung Merapi pada tahun 1994, kondisi hutan Turgo yang terkena “awan panas” belum dapat berfungsi secara optimal karena tumbuhan yang ada masih kecil dan jarang. Oleh karena itu Kanopi Indonesia bekerjasama dengan Rotaract Club Malioboro mengadakan kegiatan Gerakan Tanam Pohon. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan, mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan konservasi serta mengenalkan sejak dini kepada anak-anak pentingnya pelestarian lingkungan.Kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 Maret 2008 ini turut didukung oleh perangkat desa, dan masyarakat desa Kemiri, Ngepring dan Turgo, Kelurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.
Kegiatan ini dihadiri oleh Rotaract Kuala Lumpur, perwakilan Dimas-Diajeng Yogyakarta, Camat Pakem dan perangkat desa Purwobinangun serta anak-anak SD Tritis dan SD Sukorejo. Pada tanggal 13 Maret dilakukan penanaman di area bekas tambang pasir di desa Kemiri dan Ngepring, sedangkan hari berikutnya dilakukan penanaman di kawasan hutan Turgo.Kegiatan ini dimulai dengan penanaman beberapa jenis tanaman di titik-titik penanaman. Jumlah pohon yang ditanam di area bekas tambang yaitu 650 bibit, sedangkan yang ditanam pada area hutan yaitu 350 bibit.
Adapun jenis yang ditanam di area bekas tambang adalah sengon dan bambu. Sengon dipilih karena merupakan tanaman produksi yang cepat dan bernilai ekonomi, sedangkan bambu dipilih karena dapat mengikat tanah lebih banyak dengan akar serabutnya. Bambu akan ditempatkan pada tebing-tebing/tepi area tambang, harapannya akan mengurangi longsor.. Sedangkan untuk kawasan hutan, jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman lokal, yakni puspa (Schima sp) dan Rau. Kedua tanaman ini dapat menangkap dan menyimpan air.
Gambar 1. Masyarakat Desa Kemiri dan Ngepring yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini
Gambar 2. Kegiatan penanaman pohon yang turut melibatkan masyarakat lokal, anak SD dan Rotaract Club Kuala Lumpur pada area bekas tambang pasir di Desa Ngepring
Gambar 3. Kegiatan penanaman pohon yang dilakukan oleh masyarakat lokal di area bekas tambang di desa Ngepring
Gambar 4. Salah seorang Rotaract Club Kuala Lumpur, Cheong, sedang melakukan penanaman di hutan Turgo.
Selain penanaman pohon dilakukan juga kegiatan “Permainan Alam” untuk anak-anak SD. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan lingkungan kepada anak sejak dini, selain itu juga untuk memupuk rasa kecintaan akan alam. Adapun permainan yang dimainkan antara lain “Warna-Warni Hutan”, disini anak diajak untuk membuat gambar dari berbagai warna yang ditemukan di alam. Hal ini untuk mengenalkan bahwa alam atau hutan tidak hanya terdapat satu warna (hijau) tetapi ada beragam warna. Permainan “Copying Bark” juga dilakukan, disini anak diajak untuk mencetak kulit pohon. Dengan demikian anak mangetahui bahwa ada berjenis-jenis pohon dengan karakteristik yang berbeda. “Surat Hutan” merupakan permainan yang akan mengasah kemampuan anak untuk menulis dan bercerita. Semua permainan tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga anak merasa tertarik dan ingin berkegiatan lebih lanjut.
Gambar 5. “Permainan Alam” yang dilakukan bersama anak-anak SD dengan dipandu oleh Ami (Kanopi Indonesia) bersama Anu (Rotaract Club Kuala Lumpur)
Gambar 6. Anak-anak sedang melakukan “Copying Bark” pada salah satu pohon yang ada
Gambar 7. Anak-anak memperlihatkan hasil “Warna-Warni Hutan”Dalam kegiatan ini dilakukan juga diskusi masyarakat yang membahas tentang pentingnya nilai ekologis kawasan, kegiatan lanjutan yang sebaiknya dilakukan dan ajakan untuk berpartisipasi dalam beberapa kegiatan konservasi seperti pemetaan dan pendataan kehati secara partisipatif. Selama ini kegiatan penghijauan sering dilakukan baik oleh masyarakat sekitar kawasan maupun instansi pemerintah terkait, tetapi sering kali hanya berhenti sampai di penanaman saja. Oleh karena itu diperlukan kegiatan lanjutan seperti monitoring dan perawatan yang turut melibatkan masyarakat sekitar. Dalam diskusi tersebut terlontar bahwa masyarakat sangat tergantung pada sumber air yang berasal dari hutan Turgo, oleh karena itu peranan masyarakat sangatlah diperlukan untuk menjaga agar kawasan hutan Turgo tetap terjaga. Dengan demikian kebutuhan masyarakat akan air tetap terpenuhi hingga masa mendatang.
Gambar 8. Diskusi masyarakat yang membahas tentang pentingnya nilai ekologis kawasan, kegiatan lanjutan yang diperlukan serta ajakan untuk berpartisipasi dalam kegiatan konservasi
Gambar 9. Salah seorang peserta diskusi sedang menyampaikan pendapatnya
Gambar 10. Kanopi Indonesia, Rotaract Club Malioboro, Rotaract Club Kuala Lumpur dan masyarakat lokal.
Infomasi lebih lanjut : Kanopi Indonesia, Pogung Lor E 20, Mlati, Sleman, Yogyakarta, telp (0274) 7433492; kanopi_ina@yahoo.com ; website: kanopi-indonesia.org
Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)
Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah
Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009
Kekayaan Jenis Satwa Indonesia
Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku
“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas
Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan
Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut
Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman
Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi
ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia
Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta
Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi
Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)
TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)
Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi
Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)
Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi
Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi
Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)