“Ketut Brontok Yang Kembali Bebas

Pelepas-liaran Elang Brontok di Gunung Kidul ; Oleh : Ma,ruf Erawan

Kabupaten Gunung Kidul merupakan salah satu dari lima Kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan luas wilayah sekitar 1.485,36 Km atau ± 46,63% dari keseluruhan luas wilayah Yogyakarta. Kabupaten Gunung Kidul merupakan dataran tinggi dan bergunung-gunung, dengan topografi keadaan tanahnya secara garis besar dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah pengembangan (Zona), yaitu:

  1. Zona Utara (Zona Batur Agung)

 Dengan ketinggian 200 - 700 m di atas permukaan laut. Wilayah ini berpotensi untuk obyek wisata alam perbukitan dan wisata geologi, meliputi Kecamatan Patuk, Nglipar, Ngawen, Semin, Gedangsari bagian utara dan Ponjong bagian utara

  1.  Zona Tengah (Zona Ledok Wonosari)

Dengan ketinggian 150 - 200 m di atas permukaan laut. Wilayah ini berpotensi untuk wisata alam perbukitan, wisata geologi dan ekowisata hutan, meliputi Kecamatan Playen, Wonosari, Karangmojo, Semanu Bagian Utara dan Ponjong Bagian Tengah.

  1. Zona Selatan (Zona Pegunungan Seribu)

Dengan ketinggian 100 - 300 m di atas permukaan laut. Wilayah ini berpotensi untuk wisata pantai, wisata bahari, wisata geologi dan ekowisata kars, meliputi Kecamatan Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Girisubo, Rongkop, Semanu bagian selatan dan Ponjong bagian selatan.

Gunung Kidul yang merupakan daerah karst yang kering dan tandus memiliki kondisi lingkungan yang khas pula. Tidak semua tumbuhan dan hewan mampu bertahan  hidup pada kondisi yang ekstrim seperti di Gunung Kidul. Tumbuhan yang tidak banyak membutuhkan air seperti jati dan akasia mendominasi vegetasi di daerah ini. Kondisi ini juga membentuk suatu habitat yang khas pula bagi hewan yang hidup disana. Tidak banyak binatang yang mampu bertahan, hanya yang mampu beradaptasi dengan baik dapat bertahan hidup. Banyaknya gua yang ada di daerah ini juga memunculkan satu habitat tersendiri. Ular, katak, tokek, kelelawar dan beberapa burung semak mampu memanfaatkan habitat kering di Gunung Kidul. Adanya binatang-binatang ini pun ternyata dapat dimanfaatkan oleh beberapa burung pemangsa (raptor). Elang Brontok dan Elang Ular Bido ternyata mampu memanfaatkan kondisi di Gunung Kidul. Ular, tokek, kelelawar dan burung-burung kecil merupakan makanan utama bagi elang-elang ini.

Dalam suatu ekosistem, keberadaan burung pemangsa sangat penting karena posisinya sebagai pemangsa puncak dalam piramida atau rantai makanan. Gangguan terhadap mereka akan menyebabkan gangguan pada rantai dan jaring-jaring makanan dalam ekosistem tersebut, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Selain itu, burung pemangsa juga berfungsi sebagai indikator penunjuk keadaan lingkungan yang sehat, karena mereka peka terhadap kerusakan lingkungan, dan pengendali populasi satwa lain yang menjadi mangsanya.

Ciri khas dari burung pemangsa adalah mempunyai sepasang kaki yang kuat dilengkapi cakar yang tajam, berfungsi untuk membunuh ikan, memukul jatuh burung lain, merobek dan mengunyah mangsanya. Paruh burung ini mempunyai tipe berkait dan sangat tajam yang berguna untuk merobek-robek daging dan kulit mangsanya, penglihatan dan kekuatan terbangnya pun membuat burung ini disegani di ekosistemnya.
Burung-burung yang termasuk dalam kategori burung pemangsa atau raptor dimasukkan dalam ordo Falconiformes. Ordo ini terdiri dari 4 familia yaitu: Catharidae, Sagittaridae, Accipitridae, dan Falconidae. Famili Accipitridae mempunyai anggota spesies yang banyak, dalam ordo ini tercatat ada 224 spesies yang disusul oleh famili  Falconidae dengan 60 spesies.

Salah satu genus dari Familia Accipitridae adalah elang brontok (Spizaetus cirrhatus).

Status keberadaan burung Familia Accipitridae termasuk elang brontok (Spizaetus cirrhatus) termasuk CITES Appendix II dan dilindungi oleh PP RI No.7 tahun 1999, SK Mentan No.301/KptsII/1991, SK Mentan No.421/Kpts/Um/81/1970, dan UU RI No.5 th 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Elang brontok (Spizaetus cirrhatus) berukuran besar (70 cm), bertubuh ramping, sayap sangat lebar, ekor panjang berbentuk bulat, jambul sangat pendek. Terdapat fase gelap, terang dan peralihan. Iris kuning sampai coklat, paruh kehitaman, sera kuning kehitaman, kaki kuning kehijauan. Elang ini tersebar di India, Asia Tenggara, Filiphina, Sunda Besar dan Nusa Tenggara. Elang brontok mempunyai kebiasaan berburu dari udara dan juga dari tempat bertengger di pohon kering. Umumnya elang brontok berburu di hutan yang baru ditebang.
Elang brontok juga ditemukan di daerah Gunungkidul, salah satunya di Alas Pakis, Dusun Sureng, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Elang ini bersarang di pohon Randu (Ceiba petandra) Penemuan elang brontok di daerah ini diawali dengan penemuan anakan elang (eaglet) yang diselamatkan penduduk saat terperangkap di jaring penghalau monyet (Macaca fascicularis) yang biasa dipasang untuk menghalau monyet agar tidak masuk ke lahan pertanian.

Tepatnya pada tanggal 20 November 2008, Kanopi Indonesia  mendatangi rumah Bapak Sutrisno di Dusun Sureng setelah mendapatkan informasi dari PPA (Pemuda Pecinta Alam) Gunung Kidul tentang keberadaan seekor anakan Elang Brontok (Spizaetus chirrhatus) fase gelap yang diberi nama Ketut oleh sang pemilik.  Ketut telah berada di kandang selama kurang lebih dua minggu sebelum kedatangan Kanopi Indonesia.

Setelah melihat kondisi Ketut dan waktu penemuan yang belum lama, Kanopi Indonesia merencanakan kegiatan untuk melepas liarkannya kembali. Pelepas liaran Ketut harus dilakukan sesegera mungkin, agar kondisinya tidak semakin buruk. Rencana kegiatan pelepas liaran Ketut adalah sebagai berikut :

Setelah pelaporan resmi ditemukannya Ketut oleh Kanopi Indonesia ke BKSDA Yogyakarta serta disetujuinya kegiatan untuk pelepas liaran Ketut, maka untuk mempercepat proses pelepas liaran Ketut Kanopi Indonesia memanfaatkan link atau jaringan kelembagaannya. Dukungan alat diperoleh dari International Animal Rescue (IAR), Asian Raptor Research Conservation Networking (ARRCN), Raptor Center Pabaruban, Bandung, YPAL (Yayasan Pribumi Alam Lestari) Bandung. Alat-alat yang digunakan diantaranya jaring untuk kandang habituasi, monocular untuk monitoring, wing marker, satu unit radio telemetri, serta radio receiver. Sedangkan untuk sumberdaya manusia yang akan melakukan kegiatan ini, Kanopi Indonesia bekerjasama dengan beberapa lembaga diantaranya Wildlife Conservation Forum (WCF), Kelompok Studi Satwa Liar (KSSL) Fakultas Kedokteran Hewan UGM, dan Kelompok Pengamat, Pemerhati dan Peneliti (KP3) Burung Fakultas Kehutanan UGM. Selain lembaga-lembaga diatas, Wildlife Conservation Society (WCS) juga memberikan dukungan operasional untuk kegiatan pelepas liaran Ketut.

Setelah semua persiapan selesai, proses pelepas liaran Ketut dimulai dengan proses habituasi di dalam kandang. Kandang habituasi berukuran 4x7 meter dengan tinggi 2,5 meter dan dibuat di sekitar sarang karena Ketut masih merupakan anakan dalam tahap belajar terbang dan berburu kepada induknya. Dengan meletakkan kandang disekitar sarang diharapkan dapat dimonitoring secara langsung perkembangan psikologis Ketut dengan induknya. Selain itu dengan pembuatan kandang habituasi di alam dapat mengenalkan kembali Ketut pada kondisi alam lagi.

Setelah kandang habituasi siap, dilakukan medical check-up pada ketut untuk memastikan kondisinya tidak berpenyakit dan siap dipindahkan. Medical check-up dilakukan oleh Drh. Dian Tresno Wikanti. Medical check-up yang dilakukan pada Ketut meliputi test Avian Influenza, gambaran darah dan fisio check-up.  

 

Hasil medical check-up Ketut adalah sebagai berikut :

  1. Cek fisik                                                      : normal (sehat)
  2. cek darah terhadap antibodi Avian Influensa   : negatif
  3. Cek parasit darah                                         : negatif
  4. Jenis kelamin                                               : diperkirakan jantan
  5. Umur                                                          : anakan (Jouvenile)

Dengan hasil medical check-up yang bagus pada Ketut berikutnya dilanjutkan dengan pemasangan wing marker dan perlengkapan radio telemetri. Wing marker digunakan sebagai penanda untuk mempermudah pemantauan (monitoring)bahwa elang tersebut adalah elang yang diamati. Wing marker biasanya terbuat dari kain yang kuat, sehingga tidak mudah sobek jika digigit elang. Wing marker biasanya warnanya mencolok (biru muda,biru tua, merah, atau kuning). Wing marker dipasang dibagian pangkal sayap dan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai elang. Sedangkan radio telemetri merupakan teknik pelacakan keberadaan elang. Radio Telemetri terdiri dari radio pemancar (transmiter) yang akan memancarkan sinyal, sinyal tersebut akan dideteksi melalui radio penerima (receiver). Radio pemancar (transmiter) biasanya dipasang di ekor atau sayap elang. Pada elang muda seperti halnya pada Ketut biasanya dipasang pada sayap ditempelkan pada wing marker karena bulu ekor pada elang muda kurang besar. Dengan pemasangan kedua alat ini diharapkan dapat mempermudah pemantauan (monitoring) keberadaan Ketut setelah dilepasliarkan, selain itu juga dapat digunakan untuk study lebih lanjut tentang perilaku Ketut.

Pemindahan Ketut ke kandang habituasi dilakukan setelah medical chek-up, pemasangan wing marker serta telemetri selesai. Pemindahan dari rumah ke kandang habituasi memakan waktu kurang lebih 45 menit karena sulitnya medan yang harus dilalui. Kurang lebih pukul 16:00 Wib Ketut dimasukkan ke kandang habituasi.

Bersamaaan dengan dilepasnya Ketut di kandang habituasi, monitoring perilaku di kandang habituasi pun dilakukan. Monitoring ini dilakukan intensif setiap hari selama Ketut dikandang. Hal ini dilakukan untuk memantau perkembangan Ketut baik fisik maupun psikologis terutama kontak dengan induknya. Diperkirakan dalam waktu lima hari ketut sudah bisa di lepas liarkan kembali. Singkatnya masa habituasi ini mengingat kondisi fisiknya yang cukup baik dan belum lama dia ditangkap. Monitoring dikandang dilakukan dari jarak kurang lebih 100m dari kandang menggunakan monocular dan binocular agar tidak mengganggu aktifitas Ketut. Para pengamat hanya mendekati kandang ketika mereka memberi makanan kepada ketut. Makanan yang diberikan ke Ketut adalah tokek dan tikus putih. Semua perilaku Ketut di kandang habituasi dicatat dalam lembar pengamatan.

Aktifitas Ketut dikandang secara umum bertengger ditenggeran buatan yang dibuat di kandang dan melihat kearah sarang karena sarang alamiinya berada tepat didepan kandang habituasi. Seperti perilaku anakan binatang lain Ketut juga selalu bersuara memanggil induknya setiap hari. Komunikasi dengan induknya terjadi pada hari kedua, sang induk terlihat membawa mangsa (bunglon) dan memeri Ketut makanan yang dibawanya.  Dengan suara yang khas seperti memanggil ketut untuk mendekat  dan dengan perilaku yang khas juga mengajari ketut cara makan buruannya. Komunikasi dengan indukan ini terjadi setiap hari selama lima hari Ketut di kandang pada siang hari.

 Dengan adanya komunikasi Ketut dan indukannya, maka secara psikologis Ketut sudah mengenal kembali induknya. Setelah 5 hari di kandang habituasi, tepatnya tanggal 6 Desember Ketut dilepaskan kembali ke alam. Setelah sebelumnya pada pagi hari pintu kandang dibuka, kurang lebih pukul 15:03 WIB Ketut keluar kandang dengan sendirinya setelah induknya terlihat di sekitar sarang. Proses pelepasliaran Ketut ini juga disaksikan oleh perwakilan dari lembaga-lembaga yang terlibat dalam kegiatan ini.

Kegiatan pelepasliaran Ketut tidak serTa merta berhenti dengan keluarnya Ketut dari kandang habituasi. Untuk memastikan bertahan atau tidaknya ketut dialam dilakukan monitoring kembali selama dua bulan dengan menggunakan radio receiver  yang akan menerima sinyal radio transmiter yang dipasangkan pada Ketut. Untuk mempermudah monitoring keberadaan Ketut baik secara langsung (visual) maupun menggunakan telemetri, monitoring dilakukan di puncak bukit. Sampai sekarang monitoring Ketut masih terus berlangsung di Alas Pakis Dusun Sureng Desa Purwodadi Kecamatan Tepus Kabupaten Gunung Kidul Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)

Kampanye Peduli Elang Jawa

Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah

Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009

Habitat Elang Ular Bido (Spilornis cheela-bido Horsfield, 1821) Di Zona Pegunungan Seribu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta

Kekayaan Jenis Satwa Indonesia

Jogja Green Festival

Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku

“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas

Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan

Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut

Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman

Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi

ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia

Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta

Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi

Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)

TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)

Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi

Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)

Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi

Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi

Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)

Ngargomulyo, Desa Lestari di Lereng Barat Merapi, Magelang

Setitik Usaha Mempertahankan Sumber Kehidupan