Keranjang (Sakti) Takakura

Oleh : Ami Raini Putriraya

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah, yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Berdasarkan sifatnya, sampah dapat digolongkan ke dalam sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari bahan-bahan organik, sebaliknya sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari bahan-bahan anorganik.

Sampah organik yang dihasilkan oleh rumah tangga dapat diolah menjadi kompos langsung, salah satunya dengan menggunakan komposter yang disebut Keranjang Sakti Takakura.

 

Keranjang Sakti Takakura? Apaan sih itu?

Host unlimited photos at slide.com for FREE!Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.

Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang memakan sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering.

Jenis bakteri yang dikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut Takakura Home Method yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura.
Selain Sistim Takakura Home Method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain ada yang berbentuk Takakura Susun Method, atau modifikasi yang berbentuk tas atau kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal dan disukai masyarakat karena kepraktisannya.

 

Apa saja yang dibutuhkan untuk membuat Keranjang Sakti Takakura?
Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat keranjang Takakura antara lain: 1 buah keranjang berukuran ± 50 liter berlubang-lubang kecil berikut tutupnya; kardus bekas wadah air minum kemasan atau bekas wadah mie instan yang dapat dimasukkan ke dalam keranjang; kompos yang sudah jadi untuk starter; sekam atau sabut; kain bekas; selotip besar atau lakban; bata penyangga keranjang; dan tentu saja bahan-bahan yang hendak dikomposkan seperti sisa makanan dan sisa sayuran mentah. Perlu diingat bahwa sisa makanan yang mengandung protein (seperti santan dan bahan-bahan dari hewan) sebaiknya jangan dimasukkan ke dalam keranjang Takakura ini karena dapat menimbulkan bau yang tidak sedap.

 

Setelah alat dan bahannya sudah terkumpul, bagaimana cara membuatnya?

Cara membuat keranjang sakti Takakura adalah sebagai berikut:

  1. Keranjang, kardus bekas (yang ditinggikan dengan bantuan selotip besar atau lakban), sekam/sabut, dan bata penyangga disusun seperti gambar di bawah ini

Host unlimited photos at slide.com for FREE! 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     


  1. Masukkan kompos yang sudah jadi ke dalam kardus setinggi ± 10 – 15 cm sebagai starter. Dalam kompos ini sudah terkandung bakteri-bakteri yang berfungsi untuk membantu mengubah sampah organik menjadi kompos.
  2. Masukkan sampah dapur dalam materi yang kecil. Semakin kecil materi, semakin mudah diuraikan. Untuk sisa sayur dan buah, potonglah kecil-kecil. Cara memasukkannya adalah:
  • Gali starter kompos di dalam keranjang tersebut dengan cetok. Luasan dan kedalaman galian, sesuaikan dengan banyaknya sampah yang hendak dimasukkan.
  • Masukkan sampah pada lubang yang digali. Tusuk-tusuk sampah tersebut dengan cetok.
  • Timbun sampah tadi dengan kompos di tepian lubang.
  • Bila perlu, tambahkan lagi dengan lapisan kompos yang sudah jadi.
  1. Tutup kompos tersebut dengan bantalan sekam.
  2. Tutup permukaan keranjang dengan kain bekas.
  3. Yang terakhir, tutuplah dengan tutup keranjang.

Letakkan keranjang Takakura di tempat yang terhindar dari sinar matahari langsung. Bila kompos kering, perciki air bersih sambil diaduk merata, karena bakteri bekerja secara optimal pada lingkungan yang lembab. Suhu ideal dalam keranjang adalah 60oC.

 

Apa fungsi kardus dan sekam dalam keranjang ini?

Kenapa dipilih kardus, karena kardus tidak kedap udara. Bisa saja diganti denga media lain, misalnya karpet. Sistem pengomposan Takakura tergolong aerob di mana bakteri tergantung pada pasokan udara. Kardus juga berfungsi sebagai perangkap starter kompos agar tidak tumpah, karena keranjang yang dipakai memiliki lubang yang relatif besar. Sedangkan bantal sekam di bagian bawah keranjang berfungsi sebagai penampung air lindi dari sampah bila ada, sehingga bisa menyerap bau. Bantal sekam juga berfungsi sebagai alat kontrol udara di tempat pengomposan agar bakteri berkembang dengan baik. Selain itu, sekam dapat mencegah timbulnya belatung dalam keranjang karena tidak memungkinkan untuk perkembang biakan serangga.

 

Sampah apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam keranjang sakti ini?

Sampah yang dimasukkan ke dalam keranjang ini meliputi sisa sayuran (idealnya sisa sayuran tersebut belum basi. Namun bila telah basi, cuci sayuran tersebut terlebih dahulu, peras, lantas buang airnya), sisa nasi, dan sampah buah yang lunak (anggur, kulit jeruk, apel, dan lain-lain). Hindari memasukkan kulit buah yang keras seperti kulit salak atau durian.

Sampah-sampah tersebut dicacah kecil-kecil terlebih dahulu (± 2 cm) agar mudah diolah oleh bakteri-bakteri fermentasi yang ada pada kompos starter.

 

Bagaimana cara memanen kompos jika keranjang Takakura sudah terisi penuh?

Bila kompos di dalam Keranjang Takakura telah penuh, ambil 1/3-nya dan kita matangkan selama ± 14 hari di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sisanya yang 2/3 bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya.

 

Seberapa banyakkah sampah yang dapat dimasukkan ke dalam keranjang Takakura?

Host unlimited photos at slide.com for FREE!

 

 

 

 

 

 

 


Semakin sedikit sampah yang dimasukkan ke dalam kotak ini, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos, karena perbandingan antara bakteri dan sampah tinggi. Analoginya mungkin seperti kalau kita punya sepotong roti, dimakan berempat ya lebih cepat habis dibandingkan kalau empat orang itu masing-masing makan satu roti. Jadi semakin banyak bakteri yang bekerja pada satu potong sampah, semakin cepat sampah itu berubah menjadi kompos. Karena itu, sering menggunakan bio-aktivator juga, agar populasi bakteri di dalam starter kompos jadi banyak.

Perbandingan paling maksimal adalah 2:1 (dua bagian kompos/bakteri, dan satu bagian sampah). Kalau begini, mungkin prosesnya memakan 1 – 2 bulanan. Kalau perbandingannya 4:1 atau 5:1, mungkin 1 – 3 minggu sudah jadi.
Host unlimited photos at slide.com for FREE! 

 

 

 

 


Ukuran sampah yang dimasukkan juga berpengaruh. Semakin kecil/halus ukuran sampah yang dimasukkan, semakin cepat bakteri bekerja

 

Bagaimana kita tahu kalau bakteri dalam keranjang Takakura bekerja?
Host unlimited photos at slide.com for FREE! 

 

 

 

 

 

 

 

 


Seperti yang sudah disebutkan di atas, suhu ideal dalam keranjang Takakura adalah 60oC. Suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar ini adalah pertanda bahwa bakteri dalam keranjang sedang bekerja. Jika tidak ada sampah untuk diolah, kemungkinan tidak ada panas yang keluar karena bakterinya tidak bekerja.

 

Sumber tulisan:
http://en.wikipedia.org/ (tanggal akses 14 Mei 2008)
http://olahsampah.multiply.com/journal/item/11/Keranjang_Ajaib_Takakura_ (tanggal akses 14 Mei 2008)


Double Composting

Selain diolah dengan menggunakan metode Takakura yang hasil akhirnya pupuk berbentuk padat, sampah organik juga dapat diolah menjadi pupuk cair dengan menggunakan alat seperti gambar di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wadah yang dipakai dapat memanfaatkan barang bekas seperti ember atau tong bekas yang dapat ditutup rapat. Mengapa harus ditutup rapat? Sebab metode ini merupakan salah satu bentuk fermentasi dan mikrooganisme yang bekerja  mengubah sampah organik menjadi pupuk merupakan bakteri anaerob. Dengan kata lain, mereka hanya bisa bekerja dalam lingkungan yang tidak ada/minim oksigen.

Komposting dengan metode ini telah digunakan oleh masyarakat Gondolayu, Jogjakarta, yang sudah mengelola sampahnya secara mandiri.

 

Bagaimana cara membuatnya?

Sediakan satu buah ember/tong dengan tutupnya, kasa kawat, dan satu buah keran air kecil. Pasang kasa kawat sejajar dengan dasar ember/tong kira-kira 15 cm dari dasarnya. Supaya tidak mudah jatuh/amblas saat diisi sampah, dapat dipasang penyangga atau dinding ember/tong sedikit dilubangi untuk mengikat kasa ke dindingnya. Langkah terakhir, pasanglah keran di sudut antara dinding dan dasar ember/tong... dan selesailah sudah.

 

Bahan apa saja yang dibutuhkan untuk mulai komposting?

Bahan yang utama tentu saja sampah organik. Tanpa sampah organik, kita tidak akan bisa membuat kompos. Sampah organik ini bisa didapat dari limbah rumah tangga, atau dedaunan kering yang ada di halaman rumah. Kemudian bahan kedua yang tidak kalah pentingnya adalah starter. Starter yang dapat dipakai salah satunya adalah stardeck atau M4 yang dapat dibeli di toko perlengkapan pertanian. Starter ini merupakan bakteri yang akan bekerja memfermentasikan sampah organik menjadi kompos.

 

Ayo kita mencobanya...!

Jika semua alat dan bahan yang diperlukan sudah tersedia, maka kita bisa mencoba membuat kompos. Kompos yang dihasilkan ada dua macam, yaitu kompos padat dan kompos cair. Pertama-tama, masukkan sampah anorganik ke dalam ember/tong, lalu tambahkan starternya. Tutup rapat dan biarkan sampai 2-4 minggu, tergantung starter yang digunakan dan banyaknya sampah organik yang dimasukkan.

Bakteri pengurai akan bekerja dengan fermentasi sampah yang akan menghasilkan uap air. Uap tersebut akan berkondensasi menjadi kompos cair dan akan terkumpul di dasar ember/tong. Cairan ini dipanen dengan membuka keran yang dipasang di dasar ember/tong. Sedangkan bagian padat yang ada di atas kasa kawat merupakan kompos padat. Voila...! Jadilah kompos padat dan kompos cair buatan sendiri.

 

Bahan tulisan: komunikasi pribadi

 

 

 

Jogja Site Visit 2010 (Reuni Kecil di Lereng Selatan Gunug Merapi)

Kampanye Peduli Elang Jawa

Dokumentasi Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Barat Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah

Workshop Volunteer Yayasan Kanopi Indonesia 2009

Habitat Elang Ular Bido (Spilornis cheela-bido Horsfield, 1821) Di Zona Pegunungan Seribu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta

Kekayaan Jenis Satwa Indonesia

Jogja Green Festival

Pentas Wayang Kardus - Generasiku Lestarikan Merapiku

“Ketut” Brontok Yang Kembali Bebas

Wayang Kardus, Salah Satu Alternatif Kampanye dan Pendidikan Lingkungan

Penemuan Elang Brontok Spizaetus cirrhatus di Tepus, Gunung Kidul dan Rencana Tindak Lanjut

Pendampingan masyarakat Kelompok Tani Tanaman Hias Glagaharjo, Cangkringan, Sleman

Rehabilitasi Hutan Gunung Merapi

ToT Facilitator for Environmental Education Yayasan Kanopi Indonesia

Keanekaragaman Herpetofauna di Turgo-Plawangan, Gunug Merapi, Yogyakarta

Keanekaragaman Jenis Burung Di Sekitar Mata Air Turgo-Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi

Menelusuri Jejak Air (Berwisata ke Desa Ngargomulyo, Lereng Barat Merapi, Magelang)

TNGMBC 2008 (Taman Nasional Birding Competition 2008)

Pemetaan dan Pendataan Potensi Kehati di Lereng Selatan Gunung Merapi

Kurmat Alam Merapi (Konservasi keanekaragaman hayati dlam budaya masyarakat lereng Barat Merapi)

Gerakan Tanam Pohon dalam rangka menyambut Hari Bumi

Kampanye Bangga Konservasi di Lereng Selatan Gunung Merapi

Hari Bumi (Hitungan Mundur Menuju Kepunahan)

Ngargomulyo, Desa Lestari di Lereng Barat Merapi, Magelang

Setitik Usaha Mempertahankan Sumber Kehidupan