“Adopsi Burung” konservasi ala Masyarakat Desa Jatimulyo

Desa Jatimulyo atau saat ini dikenal sebagai “Desa Ramah Burung” terletak di perbukitan Manoreh dan masuk kedalam kabupaten Kulonprogo. Desa Jatimulyo sendiri sangat dikenal oleh para penggiat konservasi dan pengamat burung karena jumlah burung yang termasuk sangat tinggi yaitu 100-an jenis yang meliputi jenis burung penetap “resident” maupun jenis burung yang berkunjung setiap tahun ”migran”. Jenis burung yang melimpah ini bukan serta merta terjadi begitu saja, namun melalui proses yang sangat panjang dan berliku. Sebelum ditetapkan oleh peraturan desa, yaitu PERDES No 8 tahun 2014 hampir sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pemburu burung untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jenis burung yang sering diburu yaitu jenis Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), dan Empuloh Janggut/Kampas Tembak (Alophoixus bres), sehingga pada saat itu kedua jenis burung ini sangat sulit sekali untuk dijumpai di kawasan Desa Jatimulyo.

Gambar 1. Jenis Burung yang diadopsi Cekakak Jawa (kanan), Burung Sikatan Cacing/Sulingan (kanan)

Setelah sekian lama, banyak masyarakat sadar dan tidak lagi melakukan aktivitas berburu dikawasan Desa Jatimulyo, hal ini tentu berdampak dengan peningkatan populasi burung di kawasan ini termasuk jenis burung Sikatan Cacing, Empuloh Janggut/Kampas tembak, dan jenis burung lainnya. Hal ini tentu saja dibarengi oleh program yang di inisiasi oleh Yayasan Kutilang dengan Kopi Sulingan dan kemudian saat ini di kelola oleh Masyarakat Pemerhati Burung Jatimulyo (MPBJ) atau sekarang sudah menjadi Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi yaitu program adopsi sarang burung. Pada tahun 2018 yang lalu Yayasan Kanopi Indonesia terlibat dalam program ini dengan melakukan adopsi burung Empuloh Janggut dan sukses dengan terbang bebasnya 3 anakan burung yang menetas.

Gambar 2. Dokumentasi Proses Adopsi Sarang Burung di Desa Jatimulyo

Dalam program “Adopsi Burung” ini, semua komponen masyarakat terlibat dalam beberapa rangkaian kegiatannya, mulai dari pemilik lahan, tim monitoring yang merupakan masyarakat yang tergabung dalam kelompok KTH Wanapaksi, Pemerintah Desa Jatimulyo, dan yang sudah tentunya yaitu para “Adopter” yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Proses adopsi ini di mulai dari informasi sarang dari pemilik lahan ke kelompok KTH Wanapaksi dan kemudian di informasikan kepada adopter yang sudah masuk kedalam daftar tunggu untuk proses adopsi. Selanjutnya pemantauan oleh tim KTH Wanapaksi untuk memonitor dan mendokumentasikan perkembangan burung yang diadopsi mulai dari telur sampai terbang meninggalkan sarang. Dan hasil monitoring dan dokumentasi akan selalu di informasikan kepada adopter.

Dari awal program sampai saat ini telah dilakukan 18 kali adopsi sarang burung dengan 12 adopter seperti Kopi Sulingan, RM Baleroso (Yogyakarta), Servis Auto Tronter (Yogyakarta), Kopi Sasami, Pondok Bakaran, Ibu Primi (Jakarta), Ibu Imelda (Neestle), Yayasan Kanopi Indonesia, Ibu Desi Ayu, Bapak Hari Susanto, dan RKW Kulonprogo BKSDA DIY.  Jenis burung yang diadopsi yaitu meliputi burung Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), Elang Alap-jambul (Accipiter trivirgatus), Empuloh Janggut (Alophoixus bres), dan Kehicap Ranting (Hypothymis azurea).

Kegiatan adopsi ini sangat penting karena sebagai upaya pelestarian secara in situ berbasis masyarakat, khususnya kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi yang telah di tetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Selain itu, kegiatan ini merupakan bentuk perlindungan terhadap jenis-jenis burung yang tidak termasuk kedalam jenis yang dilindungi dalam P.20/2018, namun namun memiliki potensi ancaman penurunan jumlah populasi yang sangat tinggi karena termasuk jenis burung kicau yang diminati oleh penghobi burung kicau.

 

Teks oleh Arif Rudiyanto – Yayasan Kanopi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *