Burung Endemik Jawa yang Rentan dan Mencoba Bertahan

Burung Bubut Jawa ©Nurina Indriyani

Hutan di Pulau Jawa yang terdegradasi sedemikian rupa menyebabkan habitat bagi berbagai jenis satwa liar menjadi terfragmentasi. Akibat fragmentasi habitat, maka area jelajah satwa menjadi berkurang. Berkurangnya area jelajah dimungkinkan berimbas pada berkurangnya area mencari pakan. Sebagai gambaran, menurut catatan BPKH Wilayah IX Jawa-Madura luas hutan di Pulau Jawa pada tahun 2012 yaitu 3.135.648,70 Ha, yaitu sekitar 24% dari luas Pulau Jawa. Hutan tersebut terbagi menjadi hutan lindung seluas 735.194,560 Ha, hutan produksi 1.812.186,050 Ha, dan hutan konservasi 76.065,304 Ha. Di kantong-kantong hutan inilah, jenis-jenis satwa kharismatik dan rentan terhadap kepunahan bertahan hidup.

Selain bertahan hidup dalam luasan hutan yang mulai terbatas, satwa liar juga harus bertahan dari perburuan oleh manusia maupun alih fungsi hutan. Tidak bisa dipungkiri, perilaku negatif manusia turut andil dalam berkurangnya hutan dan satwa liar. Meskipun tak sedikit manusia yang masih peduli terhadap kelestarian hutan dan satwa liar di dalamnya. Masyarakat yang kurang peduli pada kelestarian alam sekitarnya disebabkan oleh banyak hal dan banyak faktor. Misalnya tingkat pendidikan yang rendah, tidak adanya sosialisasi dari instansi atau pihak terkait, pendapatan ekonomi yang kurang, kurangnya kesadaran pentingnya hutan dan satwa liar, dan masih banyak lagi.

Faktor ekonomi menjadi salah satu hal yang lekat dengan konservasi habitat maupun jenis tertentu. Kenyataan di lapangan, masyarakat pada umumnya terbentur pada sumber pendapatan ketika akan turut melakukan upaya konservasi. Benturan tersebut dapat berupa jenis yang seharusnya dijaga dan dilestarikan menjadi sumber pendapatan masyarakat atau aktivitas yang dilakukan masyarakat dapat mengancam keberadaan jenis yang hendak dijaga/dilestarikan. Oleh karena itu, perlu adanya strategi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui berbagai kegiatan dengan tetap menjaga hutan dan satwa liar. Strategi ini akan berbeda di tiap kawasan dan tiap kelompok masyarakat. Penentuan strategi yang ideal tentunya mengkolaborasikan local wisdom dengan pengetahuan ilmiah, atau dalam prakteknya masyarakat dengan fasilitator.

Gambar 1. Persentase Hutan di Pulau Jawa

Pemerintah melalui perhutanan sosial berusaha mengakomodasi kepentingan-kepentingan masyarakat terhadap pemanfaatan sumber daya hutan yang berkelanjutan. Perhutanan sosial merupakan sistem pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan dalam kawasan hutan negara atau hutan hak/hutan adat yang dilaksanakan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan, keseimbangan lingkungan, dan dinamika sosial budaya. Peraturan tentang Perhutanan Sosial ini dapat kita pahami dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.83/Menlhk/Setjen/Kum.1/2016 tentang Perhutanan Sosial. Kategori hutan yang menjadi cakupan peraturan tersebut yaitu hutan desa, hutan adat, hutan tanaman rakyat, hutan kemasyarakatan, dan kemitraan kehutanan.

Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait pentingnya merawat dan menjaga hutan serta satwa di dalamnya dapat dimulai salah satunya dengan sosialisasi arti penting hutan dan satwa di dalamnya. Melibatkan masyarakat secara aktif dalam kegiatan pemanfaatan yang bijak dan berkelanjutan juga dapat dilakukan untuk membangun konservasi mulai dari tingkat tapak. Proses ini tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama dan bertahap serta pendampingan secara berkelanjutan agar mencapai hasil yang optimal, yaitu masyarakat yang secara sadar dan mandiri mampu melestarikan hutan dan satwa liar serta terjamin kesejahteraannya.

Gambar 2. Peta Persebaran Bubut Jawa (sumber: IUCN.Redlist).

Bubut Jawa yang mempunyai nama ilmiah Centropus nigrorufus merupakan salah satu satwa endemik Pulau Jawa. Bubut Jawa berukuran besar yaitu 46 cm, bulu berwarna hitam dan coklat kemerahan, berekor panjang. Bulu hitam mengkilap ungu, kecuali sayap yang merah karat. Bubut Jawa mempunyai perbedaan dengan burung bubut lainnya yaitu bulu pada punggung, penutup sayap, dan bulu sekunder yang berwarna hitam.

Persebaran Bubut Jawa berada di hutan mangrove dan vegetasi rawa di pesisir Jawa. Berdasarkan MacKinnon, et.al (2010) dahulu burung ini banyak dijumpai di rawa-rawa air tawar, tetapi sekarang sangat terbatas, dan hanya tercatat di Ujung Kulon, Karawang, Indramayu, Segara Anakan, dan Muara Brantas. Menurut catatan Yayasan Kanopi Indonesia pada tahun 2018 dan 2019, Bubut Jawa juga dijumpai di pesisir selatan Cilacap.

Gambar 3. Salah satu habitat yang mendukung hidup burung Bubut Jawa ©Afrizal Nurhidayad

Bubut Jawa dinyatakan berstatus Endangered atau Terancam berdasarkan assessment IUCN Redlist tahun 1988 dan meningkat status konservasinya menjadi Vulnerable atau Rentan sejak tahun 1994 dan hingga assessment terakhir tahun 2016 masih berstatus Rentan. Trend populasi Bubut Jawa yang terus menurun salah satunya disebabkan oleh alih fungsi habitat burung ini menjadi tambak maupun area terbuka lainnya. Berdasarkan hasil penelitian di Wonorejo, Surabaya (Suwarti, dkk., 2018) preferensi habitat Bubut Jawa yaitu pada area hutan mangrove dan tambak tidak aktif yang memiliki tutupan vegetasi cukup rapat dan heterogen. Sedangkan pada tambak yang masih aktif sangat dihindari oleh burung tersebut. Area hutan mangrove dan tambak yang tidak aktif memiliki tumbuhan yang heterogen yang dapat menyediakan pakan untuk Bubut Jawa. Bubut Jawa merupakan omnivora, salah satu makanannya adalah serangga seperti belalang, kumbang, ngengat, dan lain sebagainya. Sehingga apabila populasinya terus menurun, akan berakibat pada terganggunya keseimbangan rantai makanan. Tidak adanya satwa atau burung pemakan serangga dapat menyebabkan over populasi serangga.

Selain statusnya yang Rentan, Bubut Jawa merupakan salah satu satwa yang dilindungi sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Permen LHK No. P.20 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Hal ini berarti bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati sebagaimana tercantum dalam UU No. 5 Tahun 1990. Konsekuensi atas pelanggaran akan ketentuan tersebut akan ditindak pidana dengan hukuman penjara 1 sampai 10 tahun dan denda Rp 50.000.000,- sampai Rp 200.000.000,-.

Kemudian apa yang dapat dilakukan kita? Tentunya kita dapat ikut serta menjaga habitat burung Bubut Jawa atau dengan kata lain melestarikan dan memanfaatkan hutan dengan baik dan bijak. Bentuk dukungannya tidak semata kita sebagai pelaku saja namun juga mendorong masyarakat sekitar dan stakeholder terkait. Karena pada dasarnya sudah ada peraturan dan perundang-undangan yang mendukung usaha konservasi tersebut.

teks oleh Nurina Indriyani / Yayasan Kanopi Indonesia

Referensi :

BirdLife International. 2016. Centropus nigrorufus. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T22684236A93020531. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016- 3.RLTS.T22684236A93020531.en

Ekawati S, Budiningsih K, Sylviani, Suryandari E, Hakim I. 2015. Tinjauan kritis pengelolaan hutan di Pulau Jawa. Policy Brief. 9(1): 1-8.

Mackinnon, J., Phillipps, K. dan Balen, B.V. 2010. Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. LIPI-Burung Indonesia. Bogor.

Suwarti, Muji., Y.A. Mulyani, & A.P. Kartono. 2018. Karakteristik Habitat Preferensial Burung Bubut Jawa (Centropus nigrorufus) di Wonorejo Surabaya. Jurnal Media Konservasi Vol 23, No. 2 : Hal. 194 -202.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *